Pages

Senin, 07 September 2015

Pergi Aja, Gapapa Kok.

“Di dunia ini gak ada yang abadi, Fan.” Benak gua bicara pada diri sendiri.

Banyak suatu perpisahan yang gua rasakan dan selalu punya kesan yang harus selalu gua ingat diakhir kisah itu.

Jujur, rasanya kecewa itu gak enak lho.
Apalagi kalo gak bisa ngebuang ingatan
tentang moment berharganya. Nggak tega, kayak harus buang emas ke tempat sampah.
Seandainya kenangan bisa dijual gapapa deh, dapet duit.

Biarinlah, gua harus rela. Rela bukan udah siapa-siapanya lagi, rela udah dibuang waktunya, rela buat gak ngobrol seru-seruan lagi, rela..wan bencana alam. Pokoknya gitu deh. Gua gak bisa berkata-kata lagi, hanya bisa menyentuh satu persatu tombol di keyboard membuat serangkaian kata-kata yang menggambarkan bahwa gua kecewa tanpa bisa menyentuh dia lagi, mungkin gua bisa anggap keyboard ini adalah dia. Tapi sayang.. yang gua ketik dikeyboard malahan “<///3”. Lebay sih emang.

Waktu gua masih memelihara burung dara, gua berani untuk ngelepasnya jauh-jauh dan kembali lagi kepada gua. Sekarang yang harus gua lepas bukan hanya sekedar burung dara dan gua harus ngelepasnya jauh-jauh dengan harapan dia gak akan kembali lagi kepada gua. Karena gua belum pantas menjaganya, atau.. memeliharanya.

Gua udah males deh kayanya, hanya berputar disatu titik yang sama pada porosnya tinggal menunggu porosnya rusak terus gak bisa muter lagi (ngerti kan maksud gua?). Cerita ini kayaknya usai deh karena udah gak ada lagi yang saling memiliki. Cerita ini kayak film yang abis ditengah jalan, nggak happy ending, kalo diputer ulang pasti ceritanya sama aja. Bye..

Rabu, 29 April 2015

Just Ngakak

Copas dr grup WABuat para jomblo, ini artikel dari temen :


Gw baru pulang dari menghadiri undangan nikahan teman. Seminggu ini udah mulai antri undangan, dari nikah hingga akikah. Kayaknya bulan syawal memang afdol untuk menggelar hajatan. Tapi ini masih mending sih dibandingkan bulan lalu sebelum ramadhan. Di bulan itu ada satu hari di mana gw mesti menghadiri lima undangan sekaligus di tempat-tempat yang berbeda. Pejabat aja bisa keki kalo ngelihat gw. Anak gw sampe gak kerasa tau-tau udah gede aja di kondangan.
Di acara nikah semalam pengantinnya tampak semringah. Sesekali bercanda, towel-towelan, bahagia banget kayaknya. Ya iyalah, nikah gitu loh. Otomatis beres lagi satu jawaban dari dua pertanyaan menyebalkan dalam hidup, di antara pertanyaan “kapan nikah” dan “kapan wisuda”.
Dan para jomblo yang baca tulisan ini pun mulai was-was arahnya ke mana nih tulisan. Kampret nih si Arham, pasti ujung-ujungnya kita dibully lagi nih. Hihihi.. tenang aja bray.. Don’t be a person who gets annoyed easily. Harus diakui kalo jomblo itu memang bullyable, topik yang gak ada matinya, dan paling enak dicari punch line-nya. 
Tapi insyaallah kali ini gw berusaha obyektif, dengan bertutur berdasarkan pengalaman.
Bukan apa-apa sih, tadi barusan liat gambar cover majalah Hidayah “Menghina Jomblo, Jenazah Susah Dikebumikan”. Hiiiy, walaupun gw tau itu gambar editan tapi tetap merinding juga bacanya.
Ngomongin jomblo, gw jadi flashback masa-masa menderita saat masih menyandang status jomblo istiqomah dulu. Kebetulan waktu itu gw boleh di bilang Jokowi (Jomblo Koordinator Wilayah) di daerah gw. Maksudnya tersisa gw doang di angkatan seusia yang masih jomblo. Teman-teman sekolah udah nikah semua. Para mantan malah sudah pada punya anak. 
Awkward moment banget kalo berpapasan mantan di jalan yang lagi gandengan ama suami dan anak-anak, perihnya itu sampe ke ulu hati. Untuk sekadar menyapa aja lidah jadi kelu, bibir kaku. Tenggorokan kering, dan susah buang air besar. 
Yang paling terasa itu susah tidur. Gak enak banget..
Untuk bisa tidur nyenyak, gak jarang gw bela-belain ke mini market dulu. Gak beli apa-apa. Cuma pengen dapet ucapan “met malem” dari mbak-mbak kasirnya, trus pulang. 
Yang penting ada yang ucapin. Ngenes lah pokoknya. Waktu itu gw perkirakan mbak-mbak kasirnya bergumam: kasian ni orang. Udah jomblo, insomnia lagi.
Di pagi hari, melihat orang pacaran beli sarapan dua bungkus, gw juga ikutan beli dua bungkus. Bukan untuk siapa-siapa. Tapi satu buat dimakan sendiri, satunya lagi buat dipanasi untuk makan siang.
Gitu juga kalo ngisi pulsa, paling-paling hanya untuk ngikut kuis-kuis gak jelas, dukungan premium untuk idol-idol di tivi, atau hanya untuk memperpanjang masa aktif kartu. Lagian mau SMSan ama siapa juga? Bahkan saking lamanya menjomblo, masuk ke inbox SMS togel dan operator telkomsel pun buru-buru gw balas: tau nomerku dari mana? Hadehh..
Saat menghadiri kondangan tanpa bawa partner, seolah terasing di keramaian. Ibarat nun mati di antara idgam bilagunnah, terlihat tapi dianggap gak ada.
Jadi jomblo memang hampir gak ada benernya. Pledoi gw mentah di mata orang-orang. Kalo gw membela diri dengan mengatakan jomblo itu free, mereka jawab iya freehatin.
Kalo gw bilang biar jomblo yang penting kece, mereka jawab iya kecepian.
Kalo gw bilang lagi jomblo itu pilihan, mereka jawab yang pilihan itu single, bukan jomblo. Kalo jomblo itu bukan pilihan, tapi puluhan. Puluhan yang nolak. Aaaarghhh…
Tapi emang ada benernya juga sih. Teman-teman wanita gw sebenarnya banyak, tapi rata-rata sebastian (sebatas teman tanpa kepastian). Padahal dalam hubungan itu kan harus ada feed back, dua-duanya harus ada usaha. Kalo gw doang yang usaha itu namanya wira usaha.
Gw nyaris depresi gara-gara ini. Kalo gagal ginjal itu penyebab kematian nomor dua, maka penyebab kematian nomor satu itu gagal jadian.
Malam minggu bukan hanya jadi malam yang panjang, tapi panjang dan menyeramkan. Kadang merasa bosan, kadang merasa sendiri, dan kadang juga merasa bosan sendiri.
Orang pacaran tatap-tatapan mata, orang Long Distance Relationship tatap-tatapan foto, gw malah tatap-tatapan dengan bulan. Mending kalo bulannya supermoon kayak kemarin malam, kan enak dilihat, lah ini bulannya udah eneg dilihat. Emak gw jadi cemas kalo keseringan menatap bulan trus tiba-tiba kuku gw jadi panjang, badan berbulu, dan berubah jadi serigala, meskipun gak ganteng-ganteng. Kan gak lucu..
Atas kekuatiran emak gw itu juga sampe emak sendiri yang inisiatif membentuk tim untuk mengakhiri kemarau asmara yang gw alami. Keluarga besar dikerahkan demi mencarikan gw pasangan hidup. Pokoknya gerakannya terstruktur, sistematis, dan masif.
Saat tau ada wanita khilaf yang mau, emak gw sampe tumpengan. Acara nikahan digelar di dua propinsi berbeda. Mungkin pernikahan gw dianggap sebagai prestasi terbesar dalam hidup. Hiks..
Kisah ini sempat gw jadikan buku, judulnya Dumba-Dumba Gleter, terbitan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2010. Tapi sekarang bukunya udah gak beredar dan gak diproduksi lagi, karena disinyalir mengandung konten LGBT (Langsung Gemas Begitu Terbaca). Halah, garing… 
Jadi intinya sebenarnya mari meminimalisir status jomblo. Seruan ini khususnya untuk laki-laki. Kalo perempuan kan tinggal menerima doang. Jangan kebanyakan milih lah, ntar lagi kiamat loh. Gak usah pake standar tinggi kalo gak mau jatuhnya sakit.
Sebelum menetapkan tipe orang yang menurutmu ideal buatmu, sebaiknya pikirkan dulu satu hal: apa kira-kira orang seperti itu mau sama kamu?
Jangan-jangan lu ngarep kayak Nabilah, karena kelamaan milih ntar dapatnya Nauzubillah.
Tanamkan keseriusan. Jadi laki-laki itu harus punya prinsip atau pegangan hidup. Bukan yang dipegang langsung hidup loh ya..
Yang perempuan juga jangan mau digantung, jemuran aja kalo digantung lama pasti hilang, apalagi perasaan.
Kalo udah pacaran, jangan jaim tanya kepastian, biar gak kelamaan pacarannya, karena dampak positif kelamaan pacaran itu hanya satu, yaitu positif hamil. Sorry to say..
Tapi, apapun itu, tetaplah 3-B: Berusaha, Berdoa, dan sesekali Bercermin.
Jangan sungkan untuk minta bantuan ke orang-orang terdekat.
Kalo udah ada niat baik, insyaallah pasti dimudahkan.
Yakinlah, jodoh pasti bertemu, kalopun gak jodoh ya masih bisa bertamu..

Kamis, 09 April 2015

Beginilah caranya Paul Walker dihidupkan kembali dalam Furious 7

Rasanya tak ada yang tidak mungkin bagi teknologi sekarang ini. Aktor yang telah meninggal pun dapat 'dihidupkan' kembali. Hal inilah yang dihadirkan dalam film Furious 7.

Sepeninggalnya Paul Walker dalam kecelakaan mobil pada kahir tahun 2013 memang meninggalkan duka yang mendalam bagi yang ditinggalkan. Terutama bagi pemain dan tim produksi Fast and Furious 7. Kematiannya membuat Universal menunda perilisan Furious 7 selama satu tahun.

Tadinya Universal menjadwalkan tayang pada 11 Juli 2014. Namun akhirnya harus mengalami kemunduran hingga April 2015 demi merevisi skenarionya. Pihak Universal pun tetap memastikan tidak akan menghapus adegan-adegan yang sudah dilakoni Paul Walker. Dengan teknologi CGI atau Computer Generated-Imagery, sosok Brian O'Connor bisa dihidupkan kembali.

Dilansir dari The Hollywood Reporter, proses CGI di film ketujuh ini dipercayakan kepada pihak WETA, perusahaan Digital milik sutradara The Hobbits, Peter Jackson. WETA memanfaatkan sosok dari dua adik Paul Walker, yaitu Cody dan Caleb Walker untuk diberi efek hingga wajah mereka mirip dengan almarhum kakaknya.

Sebenarnya proses 'kloning' Paul Walker ini melibatkan beberapa pemeran pengganti. Caleb untuk meniru gerak tubuh Paul, sedangkan Cody untuk menghadirkan sorot mata. Sedangkan yang lainnya, untuk menggantikan Paul berlaga di Furious 7.

Teknologi canggih ini bukan pertama kalinya digunakan dalam dunia perfilman Hollywood. Pada tahun 2000 silam, film Gladiator juga mengalami hal serupa. Aktornya Oliver Reed terkenal serangan jantung selama syuting sehingga otomatis mereka menggunakan teknik CGI sebagai jalan keluar yang tepat. Hasilnya pun tidak berbeda jauh dari aslinya.

Senin, 07 September 2015

Pergi Aja, Gapapa Kok.

“Di dunia ini gak ada yang abadi, Fan.” Benak gua bicara pada diri sendiri.

Banyak suatu perpisahan yang gua rasakan dan selalu punya kesan yang harus selalu gua ingat diakhir kisah itu.

Jujur, rasanya kecewa itu gak enak lho.
Apalagi kalo gak bisa ngebuang ingatan
tentang moment berharganya. Nggak tega, kayak harus buang emas ke tempat sampah.
Seandainya kenangan bisa dijual gapapa deh, dapet duit.

Biarinlah, gua harus rela. Rela bukan udah siapa-siapanya lagi, rela udah dibuang waktunya, rela buat gak ngobrol seru-seruan lagi, rela..wan bencana alam. Pokoknya gitu deh. Gua gak bisa berkata-kata lagi, hanya bisa menyentuh satu persatu tombol di keyboard membuat serangkaian kata-kata yang menggambarkan bahwa gua kecewa tanpa bisa menyentuh dia lagi, mungkin gua bisa anggap keyboard ini adalah dia. Tapi sayang.. yang gua ketik dikeyboard malahan “<///3”. Lebay sih emang.

Waktu gua masih memelihara burung dara, gua berani untuk ngelepasnya jauh-jauh dan kembali lagi kepada gua. Sekarang yang harus gua lepas bukan hanya sekedar burung dara dan gua harus ngelepasnya jauh-jauh dengan harapan dia gak akan kembali lagi kepada gua. Karena gua belum pantas menjaganya, atau.. memeliharanya.

Gua udah males deh kayanya, hanya berputar disatu titik yang sama pada porosnya tinggal menunggu porosnya rusak terus gak bisa muter lagi (ngerti kan maksud gua?). Cerita ini kayaknya usai deh karena udah gak ada lagi yang saling memiliki. Cerita ini kayak film yang abis ditengah jalan, nggak happy ending, kalo diputer ulang pasti ceritanya sama aja. Bye..

Rabu, 29 April 2015

Just Ngakak

Copas dr grup WABuat para jomblo, ini artikel dari temen :


Gw baru pulang dari menghadiri undangan nikahan teman. Seminggu ini udah mulai antri undangan, dari nikah hingga akikah. Kayaknya bulan syawal memang afdol untuk menggelar hajatan. Tapi ini masih mending sih dibandingkan bulan lalu sebelum ramadhan. Di bulan itu ada satu hari di mana gw mesti menghadiri lima undangan sekaligus di tempat-tempat yang berbeda. Pejabat aja bisa keki kalo ngelihat gw. Anak gw sampe gak kerasa tau-tau udah gede aja di kondangan.
Di acara nikah semalam pengantinnya tampak semringah. Sesekali bercanda, towel-towelan, bahagia banget kayaknya. Ya iyalah, nikah gitu loh. Otomatis beres lagi satu jawaban dari dua pertanyaan menyebalkan dalam hidup, di antara pertanyaan “kapan nikah” dan “kapan wisuda”.
Dan para jomblo yang baca tulisan ini pun mulai was-was arahnya ke mana nih tulisan. Kampret nih si Arham, pasti ujung-ujungnya kita dibully lagi nih. Hihihi.. tenang aja bray.. Don’t be a person who gets annoyed easily. Harus diakui kalo jomblo itu memang bullyable, topik yang gak ada matinya, dan paling enak dicari punch line-nya. 
Tapi insyaallah kali ini gw berusaha obyektif, dengan bertutur berdasarkan pengalaman.
Bukan apa-apa sih, tadi barusan liat gambar cover majalah Hidayah “Menghina Jomblo, Jenazah Susah Dikebumikan”. Hiiiy, walaupun gw tau itu gambar editan tapi tetap merinding juga bacanya.
Ngomongin jomblo, gw jadi flashback masa-masa menderita saat masih menyandang status jomblo istiqomah dulu. Kebetulan waktu itu gw boleh di bilang Jokowi (Jomblo Koordinator Wilayah) di daerah gw. Maksudnya tersisa gw doang di angkatan seusia yang masih jomblo. Teman-teman sekolah udah nikah semua. Para mantan malah sudah pada punya anak. 
Awkward moment banget kalo berpapasan mantan di jalan yang lagi gandengan ama suami dan anak-anak, perihnya itu sampe ke ulu hati. Untuk sekadar menyapa aja lidah jadi kelu, bibir kaku. Tenggorokan kering, dan susah buang air besar. 
Yang paling terasa itu susah tidur. Gak enak banget..
Untuk bisa tidur nyenyak, gak jarang gw bela-belain ke mini market dulu. Gak beli apa-apa. Cuma pengen dapet ucapan “met malem” dari mbak-mbak kasirnya, trus pulang. 
Yang penting ada yang ucapin. Ngenes lah pokoknya. Waktu itu gw perkirakan mbak-mbak kasirnya bergumam: kasian ni orang. Udah jomblo, insomnia lagi.
Di pagi hari, melihat orang pacaran beli sarapan dua bungkus, gw juga ikutan beli dua bungkus. Bukan untuk siapa-siapa. Tapi satu buat dimakan sendiri, satunya lagi buat dipanasi untuk makan siang.
Gitu juga kalo ngisi pulsa, paling-paling hanya untuk ngikut kuis-kuis gak jelas, dukungan premium untuk idol-idol di tivi, atau hanya untuk memperpanjang masa aktif kartu. Lagian mau SMSan ama siapa juga? Bahkan saking lamanya menjomblo, masuk ke inbox SMS togel dan operator telkomsel pun buru-buru gw balas: tau nomerku dari mana? Hadehh..
Saat menghadiri kondangan tanpa bawa partner, seolah terasing di keramaian. Ibarat nun mati di antara idgam bilagunnah, terlihat tapi dianggap gak ada.
Jadi jomblo memang hampir gak ada benernya. Pledoi gw mentah di mata orang-orang. Kalo gw membela diri dengan mengatakan jomblo itu free, mereka jawab iya freehatin.
Kalo gw bilang biar jomblo yang penting kece, mereka jawab iya kecepian.
Kalo gw bilang lagi jomblo itu pilihan, mereka jawab yang pilihan itu single, bukan jomblo. Kalo jomblo itu bukan pilihan, tapi puluhan. Puluhan yang nolak. Aaaarghhh…
Tapi emang ada benernya juga sih. Teman-teman wanita gw sebenarnya banyak, tapi rata-rata sebastian (sebatas teman tanpa kepastian). Padahal dalam hubungan itu kan harus ada feed back, dua-duanya harus ada usaha. Kalo gw doang yang usaha itu namanya wira usaha.
Gw nyaris depresi gara-gara ini. Kalo gagal ginjal itu penyebab kematian nomor dua, maka penyebab kematian nomor satu itu gagal jadian.
Malam minggu bukan hanya jadi malam yang panjang, tapi panjang dan menyeramkan. Kadang merasa bosan, kadang merasa sendiri, dan kadang juga merasa bosan sendiri.
Orang pacaran tatap-tatapan mata, orang Long Distance Relationship tatap-tatapan foto, gw malah tatap-tatapan dengan bulan. Mending kalo bulannya supermoon kayak kemarin malam, kan enak dilihat, lah ini bulannya udah eneg dilihat. Emak gw jadi cemas kalo keseringan menatap bulan trus tiba-tiba kuku gw jadi panjang, badan berbulu, dan berubah jadi serigala, meskipun gak ganteng-ganteng. Kan gak lucu..
Atas kekuatiran emak gw itu juga sampe emak sendiri yang inisiatif membentuk tim untuk mengakhiri kemarau asmara yang gw alami. Keluarga besar dikerahkan demi mencarikan gw pasangan hidup. Pokoknya gerakannya terstruktur, sistematis, dan masif.
Saat tau ada wanita khilaf yang mau, emak gw sampe tumpengan. Acara nikahan digelar di dua propinsi berbeda. Mungkin pernikahan gw dianggap sebagai prestasi terbesar dalam hidup. Hiks..
Kisah ini sempat gw jadikan buku, judulnya Dumba-Dumba Gleter, terbitan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2010. Tapi sekarang bukunya udah gak beredar dan gak diproduksi lagi, karena disinyalir mengandung konten LGBT (Langsung Gemas Begitu Terbaca). Halah, garing… 
Jadi intinya sebenarnya mari meminimalisir status jomblo. Seruan ini khususnya untuk laki-laki. Kalo perempuan kan tinggal menerima doang. Jangan kebanyakan milih lah, ntar lagi kiamat loh. Gak usah pake standar tinggi kalo gak mau jatuhnya sakit.
Sebelum menetapkan tipe orang yang menurutmu ideal buatmu, sebaiknya pikirkan dulu satu hal: apa kira-kira orang seperti itu mau sama kamu?
Jangan-jangan lu ngarep kayak Nabilah, karena kelamaan milih ntar dapatnya Nauzubillah.
Tanamkan keseriusan. Jadi laki-laki itu harus punya prinsip atau pegangan hidup. Bukan yang dipegang langsung hidup loh ya..
Yang perempuan juga jangan mau digantung, jemuran aja kalo digantung lama pasti hilang, apalagi perasaan.
Kalo udah pacaran, jangan jaim tanya kepastian, biar gak kelamaan pacarannya, karena dampak positif kelamaan pacaran itu hanya satu, yaitu positif hamil. Sorry to say..
Tapi, apapun itu, tetaplah 3-B: Berusaha, Berdoa, dan sesekali Bercermin.
Jangan sungkan untuk minta bantuan ke orang-orang terdekat.
Kalo udah ada niat baik, insyaallah pasti dimudahkan.
Yakinlah, jodoh pasti bertemu, kalopun gak jodoh ya masih bisa bertamu..

Kamis, 09 April 2015

Beginilah caranya Paul Walker dihidupkan kembali dalam Furious 7

Rasanya tak ada yang tidak mungkin bagi teknologi sekarang ini. Aktor yang telah meninggal pun dapat 'dihidupkan' kembali. Hal inilah yang dihadirkan dalam film Furious 7.

Sepeninggalnya Paul Walker dalam kecelakaan mobil pada kahir tahun 2013 memang meninggalkan duka yang mendalam bagi yang ditinggalkan. Terutama bagi pemain dan tim produksi Fast and Furious 7. Kematiannya membuat Universal menunda perilisan Furious 7 selama satu tahun.

Tadinya Universal menjadwalkan tayang pada 11 Juli 2014. Namun akhirnya harus mengalami kemunduran hingga April 2015 demi merevisi skenarionya. Pihak Universal pun tetap memastikan tidak akan menghapus adegan-adegan yang sudah dilakoni Paul Walker. Dengan teknologi CGI atau Computer Generated-Imagery, sosok Brian O'Connor bisa dihidupkan kembali.

Dilansir dari The Hollywood Reporter, proses CGI di film ketujuh ini dipercayakan kepada pihak WETA, perusahaan Digital milik sutradara The Hobbits, Peter Jackson. WETA memanfaatkan sosok dari dua adik Paul Walker, yaitu Cody dan Caleb Walker untuk diberi efek hingga wajah mereka mirip dengan almarhum kakaknya.

Sebenarnya proses 'kloning' Paul Walker ini melibatkan beberapa pemeran pengganti. Caleb untuk meniru gerak tubuh Paul, sedangkan Cody untuk menghadirkan sorot mata. Sedangkan yang lainnya, untuk menggantikan Paul berlaga di Furious 7.

Teknologi canggih ini bukan pertama kalinya digunakan dalam dunia perfilman Hollywood. Pada tahun 2000 silam, film Gladiator juga mengalami hal serupa. Aktornya Oliver Reed terkenal serangan jantung selama syuting sehingga otomatis mereka menggunakan teknik CGI sebagai jalan keluar yang tepat. Hasilnya pun tidak berbeda jauh dari aslinya.